MENGENAL SUKU BIMA
MENGENAL PREDIKAT SOSIAL SUKU BIMA
Predikat adat bagi suatu komunitas sosial adalah penegasan dari sebuah identitas sosial dan identitas politik sekaligus. Bagi masyarakat Bima, predikat-predikat tersebut juga penting bukan hanya harus ditilik pada sisi yang konotatif semata, tetapi juga diperlukan untuk memudahkan seseorang melanggengkan hubungannya.
Bagi kebanyakan suku di Nusantara, penggunaan predikat tertentu sudah merupakan warisan pergaulan secara turun temurun. Kemudian di masa sekarang, predikat itu tidak lagi berfungsi untuk membeda-bedakan status sosial seseorang, tetapi digunakan sebagai sapaan akrab untuk mengurangi kebiasaan menyebut nama. Karena memang dalam tradisi orang Indonesia, jarang sekali kita memanggil orang lain dengan nama aslinya secara langsung.
Berikut ini beberapa predikat sosial yang ada dalam suku Bima:
1. Dae
Sebutan ini murni berasal dari Gowa. Seperti sudah kita maklumi bersama, bahwa kontak antara Makassar dengan Bima telah terbangun menjadi koneksitas kekerabatan dan adopsi budaya. Sebenarnya Daeng ada dua macam. Pertama; daeng sebagai sebutan kepada orang yang lebih tua atau yang dituakan. Sifatnya sama dengan Mas bagi orang Jawa, atau Akang bagi orang Sunda. Panggilan ini awalnya hanya milik suku Makassar saja karena daeng memang sebenarnya adalah bagian dari budaya suku Makassar. Daeng sebagai panggilan kepada orang yang lebih tua dipergunakan merata kepada pria ataupun wanita.
Menurut lidah Bima, istilah Daeng kemudian terdengar menjadi Dae saja. Sebutan ini biasanya berlaku bagi kerabat kerajaan yang masih memiliki hubungan kekerabatan ke atas dengan permaisuri dari Gowa. Sekarang sebutan Dae sudah berlaku umum saja, bahkan entah apa sebabnya, panggilan Dae tidak lagi berlaku khusus, tetapi berlaku umum untuk menghormati orang-orang yang baru dikenal. Di Dompu misalnya, panggilan Dae kadang hampir merata digunakan sebagai sapaan penghormatan pada orang yang dituakan.
2. ‘Dae
Panggilan ini sepintas terdengar mirip dengan Dae, padahal penyebutannya sangat berbeda. Jika Dae disebut secara jelas dengan artikulasi konsonan D yang tebal, maka tidak sama terdengar pada sebutan ‘Dae yang huruf D-nya terucap tipis dengan menyentuhkan ujung lidah di langit-langit mulut. Tidak jelas maknanya, namun panggilan ini sempat terpelihara di beberapa kampung di wilayah timur Kota Bima.
3. Pua
Istilah ini berasal dari Bugis, yang dalam dialek Bugis disebut Puang. Awal mulanya tentu berkaitan dengan hijrahnya banyak laskar Bone pada masa perang besar antara Kerajaan Gowa dengan Kerajaan Bima (Hindu) pada sekitar tahun 1630-an. Para pasukan dari Bugis inilah yang merintis perkampungan baru di pesisir timur Sape, lalu membangun kebudayaan Bugis di wilayah Bima. Langgengnya kebudayaan ini juga dilegitimasi oleh bangsawan kerajaan Bima yang menjalin hubungan terikat dengan Sulawesi, baik itu perkawinan Raja dengan permaisuri dari Bugis, maupun kontak-kontak lainnya. Predikat Puang masih banyak digunakan di masyarakat desa Bugis dan Melayu di Sape, yang seiring waktu kemudian berubah penyebutannya menurut dialek Bima menjadi Pua.
4. Muma
Istilah ini hampir sulit ditemui dalam kosmologi Gowa maupun daerah lain di Nusantara. Sepertinya sebutan ini adalah pembiasan dialek dari kata Ruma. Namun kebanyakan sebutan ini juga digunakan secara umum bagi kebanyakan orang yang mempunyai trah Kerajaan. Admin sempat menduga jika istilah Muma berasal dari gelar adat Minang "Mamak" yang diartikan sebagai ibu utama dalam adat istiadat setempat. Namun dugaan ini tidak memiliki alasan historis yang tepat.
5. Teta
Sebutan ini berasal dari pengaruh Bugis-Bone, dari kata "Petta". Panggilan ini untuk menunjukkan trah kebangsawanan khusus di masyarakat Bone. Petta juga menjadi julukan bagi panglima punggawa kampung atau ana to merdeka yang pernah ikut dalam pasukan khas tersebut. Istilah ini kemudian berubah dalam penyebutan orang Bima menjadi Tetta.
6. Tato
Sebutan Tato juga merupakan pengaruh Melayu Minang. Tato berasal dari kata Datok yang dalam dialek Minang dilafalkan “Datuak”, adalah gelar adat yang diberikan kepada seseorang melalui kesepakatan suatu kaum atau suku yang ada di wilayah Minangkabau dan selanjutnya disetujui sampai ke tingkat rapat adat oleh para tokoh pemuka adat setempat (Kerapatan Adat Nagari). Tetapi istilah Datu sendiri juga berasal dari bahasa Sansekerta, banyak digunakan dalam tradisi kerajaan-kerajaan Hindu lama.
Di Malaysia Dato’ adalah gelar kehormatan yang dianugerahkan oleh Sultan atau Raja atau Yang di-Pertuan Besar. Gelar ini dapat juga diberikan selain kepada laki-laki tetapi juga kepada perempuan, dan tak jarang ditambahkan dengan gelar yang lain seperti sri, maka jadilah “datuk sri”. Dan yang agak bergeser sedikit adalah pemakaian gelar datuk atau dato’ di Malaysia tidak lagi diberikan hanya bagi orang asli Melayu tapi juga dapat diberikan pada etnis yang lain. Dalam sejarah Bima pun isteri dari Sultan Abdul Hamid disebut sebagai Datu Sagiri puteri Sultan Harun Arrasyid Raja Sumbawa. Gelar Datu juga digunakan oleh masyarakat Muslim Moro di Filipina. Gelar ini disandang oleh para pimpinan dari satu klan atau marga.
Sebutan Tato bagi masyarakat Bima sudah mengalami penyempitan makna menjadi "Kakek". Sehingga secara luas, banyak yang menyebut kakeknya sebagai Ato.
7. Tati
Sebutan ini juga berasal dari Melayu. Aslinya adalah Datin, yang digunakan untuk menyebut para bangsawan tinggi Melayu, saat ini gelar Datin sudah sulit dijumpai di Malaysia kecuali bagi keluarga langsung kerajaan yang sudah dianugerahkan dalam upacara khusus. Gelar ini biasanya disematkan pada perempuan atau garis keturunan perempuan. Jika gelar Datuk Seri diberikan pada yang laki, maka Datin Seri disematkan pada perempuan dan keturunannya. Sebutan ini muncul di Bima pada pertengahan abad 16, ketika Islam mulai tumbuh di Bima dari pengaruh mubalig-mubalig dari Malaka, kemudian berubah menurut lidah orang Bima menjadi Tati. Sebutan ini hanya ada di kampung Soro-Melayu Kecamatan Lambu. Tidak begitu banyak orang yang menggunakannya, karena di kampung Soro-Melayu sana, orang-orang yang menggunakan sebutan ini jumlahnya cukup terbatas, dan berlaku hanya pada keluarga tertentu saja.
8. Ince
Sebutan ini sudah pasti berasal dari Melayu, tepatnya dari suku Pagaruyung di Minangkabau, dari awalnya adalah Encik atau Cik, yang kemudian oleh dialek orang Bima menjadi Ince. Dalam sejarah, istilah Ince dinisbatkan pada generasi dari Datuk Ri Bandang dan Datuk Ri Tiro sebagai dua sosok Mubalig dari Minangkabau yang berhasil mengislamkan La Kai. Meski demikian, interaksi antara masyarakat Islam di Bima dengan kelompok-kelompok pedagang dari Melayu sudah terjalin erat sejak lama. Barulah sesudah Sultan Abil Khair Sirajuddin memerintah, maka rombongan keluarga besar mubalig tersebut hijrah ke Bima, lalu mendapatkan hak untuk menempati sebuah tanah yang luas untuk dikelola dan dijadikan sebagai perkampungan. Tanah tersebut berada di kampung Melayu Kecamatan Lambu sekarang ini. Wajar saja kemudian, kalau di kampung tersebut sampai hari ini sebutan tersebut tetap disematkan bagi keturunan-keturunan Melayu.
9. Uba
Barangkali sebutan ini termasuk yang paling tua dalam tradisi masyarakat Bima. Istilah Uba cukup sulit dirunut secara antropologis, dan saat ini mungkin hampir punah dari pergaulan orang Bima. Jika ditilik dalam perspektif fenomenologis, penyebutan kata Uba juga dinisbatkan secara terbatas pada klan tertentu, yang lebih banyak berkisar di wilayah Sape. Admin menduga kalau istilah Uba adalah bahasa Bima lama yang digunakan sebagai julukan bagi para laskar Raja yang setia sejak zaman Hindu. Mereka adalah para pemberani dan terkenal sakti. Istilah ini pun hanya disematkan pada garis keturunan laki-laki.
Predikat-predikat adat yang terdapat dalam pergaulan sosial masyarakat Bima hampir bisa disimpulkan berasal dari predikat serapan. Hal tersebut dipengaruhi secara dominan oleh interaksi lintas komunitas antara orang Bima dengan masyarakat pendatang. Asimilasi kebudayaan yang sangat dominan telah merubah kebudayaan Bima yang asli menjadi sebuah struktur sosial kuat yang menerapkan berbagai macam corak kebudayaan luar. Termasuk dalam hal penggunaan predikat adat, nama-nama asli selalu dibumbui dengan label adat tertentu untuk menegaskan identitas genetik seseorang.
Komentar
Posting Komentar